Home > Uncategorized > Dosen, Dua Mahasiswi dan Social Media

Dosen, Dua Mahasiswi dan Social Media

Sebutlah namaku A, dosen di sebuah Perguruan Tinggi Swasta di Jawa Timur. Aku dosen yang masih lumayan muda, punya istri cantik dan 2 orang anak. Bisa dibilang hidupku normal-normal saja. Berada dalam dunia kampus sungguh menyenangkan, karena atmosfir nya sungguh berbeda dengan tempat kerja ku sebelumnya. Mahasiswa selalu berganti tiap tahun, menbuat suasana “segar” selalu terjaga. Tidak sedikit dari mereka yang sering kali jadi bahan obrolan di ruang dosen. Bukan hanya prestasi atau kebandelan, tapi juga ukuran dada dan kecantikan. Well, dosen juga manusia kan? Jadi ya harap dimaklumi. Sejauh yang aku tahu, para dosen ini tidak pernah melampiaskan keliaran mereka ke mahasiswa. Sesuatu yang nantinya secara tidak sengaja aku lakukan.

Zaman sudah berubah, pola komunikasi dosen-mahasiswa pun berubah. Semua jalur komunikasi digunakan, telepon, sms, email, facebook, blog, twitter, dan semua alat canggih komunikasi. Hari itu hari terakhir aku mengajar mata kuliah. Seperti biasa aku pamit di kelas dengan memberi penjelasan tentang ujian akhir. Saat istirahat, aku iseng membuka akun jejaring sosial, dan hmm, ada salah satu mahasiswi aku (sebut namanya si D), yang sedang menggoda kawannya karena segera berpisah dengan aku (sebut namanya si S), setelah kuliah aku tadi berakhir. Aku hanya tersenyum simpul. Hhhh ada-ada saja generasi alay nih.

Tepat tiga hari setelah itu, si mahasiswi S, menulis di statusnya. Iseng aku komentari status itu, tentu dengan maksud sedikit menggodanya. Gayung bersambut, ia membalas dengan bahasa yang sedikit flirty juga. Takut ketahuan akhirnya kami tidak berbalas lagi.

Esoknya hari ujian mata kuliah aku, tentu si mahasiswi S ada di kelas.. Seperti biasa, menyapu dengan tatapan galak dan penuh ketegasan. Sesekali aku curi-curi pandang ke si S, yang ternyata juga melakukan hal yang sama terhadapku. Setelah membagi soal dan kertas jawaban, aku mulai lakukan patroli identitas. Bagi mahasiswa yang tidak bawa identitas langsung dikeluarkan. Ketika sampai giliran S, dia tampak bingung dan panik. Dia buka dompetnya, buka tasnya, dan

S: “ Maaf Pak aku ngga bawa kartu ujian”
A: ” Waduh mbak kalau gitu anda harus keluar ruangan”
S: “ Aduh pak, tolong dong pak”
A: “ Ngga bisa mbak”
S: “ Biasanya juga ngga apa apa pak”, aku mulai jengkel
A: “KELUARRRR!!!”
Dengan wajah takut S keluar ruangan. Sempat aku lihat gemulai pinggangnya yang aduhai, dan tampaknya dia tahu itu. Wajahnya yang tadi takut gemetaran berubah jadi flirty dan nakal. Aku hanya tersenyum dan geleng-geleng kepala melihat perubahan ekspresinya itu.

Satu jam kemudian ujian selesai. Aku bergegas ke ruangan ku. Tidak terlalu kaget ketika melihat S sudah ada di depan ruanganku. Ruangan kerja dosen yang cukup ideal, ukuran 3×2 dilengkapi PC, meja kerja, dan rak buku.
A: “Ada apa mbak?”
S: “Masalah ujian tadi Pak..”
A:”Kenapa? Kan jelas di aturan bahwa yang ngga bawa Kartu Ujian ngga boleh ikut ujian”

S:” Tapi pak, ini mata kuliah terakhir aku, ujian skripsi aku tinggal menunggu ini, apa bapak ngga punya jalan lain untuk aku?”
A: “Jalan apa? Ini udah jalan buntu mbak?” kataku dengan sedikit sinis
S: “Jalan apa saja pak…” ia menjawab sambil sedikit genit dan takut
A: “Maksud kamu? Ngga jelas deh kamu” jawab aku tegas untuk memastikan
S: “Aku mau bapak apain aja asal aku boleh ikut ujian pak”
A: “Waduh mbak…mau aku suruh ngepel rumah??” nada menggoda ku semakin tinggi.
S: “Kalau itu nggak lah pak” dia menggoda sambil membiarkan salah satu tali tank top nya mlorot.
A: “Mbak, talinya mlorot” kataku
S: “Eh iya pak, bapak mau benerin??” katanya mengerling nakal,

Nahhh ini dia, sinyalemen nya…aku berdiri dan langsung tutup korden ruangan, tak lupa mengunci pintu. Si S tampak tenang-tenang saja, malahan tali tanktop satu lagi dilorotkan.
A: “Lho kok yang melorot dua, kalo gitu sekalian dilepas aja..”
S: “ihhh bapak nakal, copotin donk pak”
Tanpa komando dua kali, aku lucuti tanktop nya. Menggelantunglah dua buah dada perawan yang masih kencang itu. Si S memang terkenal dengan ukuran nya yang “wah” tapi aku ngga pernah membayangkan bakal se”wah” itu. Cup 36 D dengan BB 165/55 dan kulit bersih khas Indonesia jelas sangat nyaman untuk dilihat. Tanpa banyak bicara aku langsung remas dua buah dada itu. Dia mendesis.
A: “ahhhh kok langsung aja pak??” aku jadi salah tingkah, tapi ngga peduli aku tetap remas lembut dada nya dari bawah ke atas, lembut dan penuh gairah. Desisannya tambah keras…
A: ”sssss…iya pak…gitu…hhhh dikenyot dong pak…” Tampaknya sudah benar-benar lampu hijau nih. Aku gendong dia, aku taruh dia di meja dosen. Dengan tinggi badanku 180, dadanya sungguh tepat di depan muka ku. HAPHH…aku lumat lembut putingnya yang berwarna coklat kemerahan dan melebar itu. Aku mainkan putingnya, aku jilat atas dan bawah lalu aku jilat berputar. Dia menggelinjang hebat, wajahnya menengadah ke atas, tangannya mencengkeram kemejaku erat-erat. Aku tau dia gigit bibir nya untuk menahan teriakan liarnya. Maklum ini kan ruang dosen, malu kan kalau kedengaran teman dosen atau teman si S, hehe. Kumainkan dada nya dengan liar, nafsu, tapi lembut. Setelah puas dengan kenyotan satu per satu, aku mulai kenyot kedua susunya bersamaan. Aku tempelkan kedua dada nya dan aku kenyot bergantian secara cepat. Dia berteriak dan mendesis…

S: “ughhh pak. Teruss bapak Sayang. Bapak pinter bangettt” Iseng aku jawab
A: “Kalau ngga pinter ngga jadi dosen mbak”. Ia ketawa sengit, sambil tetap menggigit bibir.

Entah kenapa tiba-tiba badannya mengejang hebat, kedua tangannya meremas kepalaku dan menjambak rambutku, badanku pun dicengkeram oleh kedua kakinya sembari mendesis…
A: “Pakk…uhhhhghttttt ahhhhhhh, aku ngga kuat lagi…aku keluarrr…” badannya mengejang hebat dan cengkeramannya menguat.

Aku tau, dia bakal orgasme, tapi aku sungguh tidak menyangka dia bakal orgasme secepat itu. Tampaknya ia memahami kebingunganku itu sambil menjawab:
S: “bapak hebat banget kenyotannya, aku ngga tahan” dengan gaya genit khas ABG.
Aku hanya tersenyum dan kembali pasang muka galak.
A: “Udah cukup?? Itu maksudmu boleh ngapain aja? Maaf mbak kamu tetap ngga bisa ikut ujian” kataku dengan ketus, dan sok jaim.
S: “Pak?????aku udah kayak gini tetap ngga boleh? Terus aku mesti apa lagi pak? aku masih perawan pak, dan aku ngga mau kehilangan keperawanan aku, sebelum menikah” dengan wajah bingung dan memelas ia menjelaskan
A: “Siapa yang minta keperawanan kamu? Aku ngga kok” kataku mengerling mata dengan nakal.
S: “ Ow…aku tau pak” wajahnya berubah jadi cerah dipenuhi ide.

Segera dia turun dari meja, jongkok di doronnya aku ke kursi, dan dibukanya resleting ku pake mulut. Mendesir rasanya jantungku. Hingga aku ngga sadar kalau kontolku sudah menggelantung bebas. Belum bangun memang si dedek kecil hanya sedikit keras. Tanpa ragu, dia mulai menjilati buah pelir ku, SLUURPS SLERPPS Ugh rasanya ngilu setengah mati. Telaten banget dia jilati centi demi centi kerutan buah pelirku. Kadang ia masukkan buahnya kemulutnya dan dikenyot liar. Ughhhh rasanya sungguh ngilu dan nikmat. Tangannya nggak kalah nakal, ia remas-remas dan kocok batang kontolku. Aghht…campur aduk rasanya, enak, ngilu, sensasional…

Ngeliat perilaku nya yang seliar ini aku jadi ragu kalau dia masih perawan. Sedikit demi sedikit uratku mengeras. Rasa ngilu tadi berubah jadi nikmat, kocokan lembutnya pun semakin cepat, dan ia beralih ke batang kontolku. Lidahnya dijulurkan dan tampak sekali dia menikmati urat-urat ku. Kontolku memang tidak panjang, tapi kepalanya yang besar dan berurat bikin istriku kelojotan setengah mati setiap melayaniku.

Entah diapakan kontolku oleh si S tapi rasanya enak dan membuatku melayang. Jilatan nakalnya mulai sampai ke ujung belahan kontolku, dijilatnya belahan itu. A: “Sshhhss…terusss mbak…awww…” Precum ku yang mulai keluar dia jilat dengan rakus.
S: “Clup clup sluuurppp sruuputtss sruuupsss haph…” suara jilatannya bikin aku merinding.

Ughh ngilu betul rasanya. Dia buka belahan itu pakai dua tangan, perih, refleks tanganku hendak melindungi ujung kontolku tapi dengan sigap dia tepis. Semakin ganas dia jilat belahan ku atas ke bawah, dan aku hanya bisa menggigit bibir.
A: “ Udah kenyot aja mbak” kataku ngga tahan.
S: “Bentar pak enak banget cairan bapak” katanya sambil terkikih kecil menggoda.

Ughhh ngilu ku semakin menjadi. Pelan mulai terasa mulut hangatnya menelan kepala kontolku, ughhh lega rasanya. Tapi ternyata pikiranku salah. Kenyotannya lebih ganas. Dia sedot kuat-kuat kontolku sambil meremas pantat ku secara bersamaan. Ughht…aku hanya bisa memegang kepalanya kuat-kuat. Pelan dia bisikkan
S: “Ayo pak goyangin pantatnya”. Aku nurut aku goyanging pantatku ke depan dan ke belakang aku entot mulutnya. Dan ughh goshhhh…sedotannya bertambah ganas, rasa ngilu dan enak itu kembali muncul. Nggak tahan dengan kenikmatan itu, kontolku mulai berkedut, rasanya spermaku sudah mau muntah. Si S tau itu, segera ia pencet urat bagian bawah kontolkuku dan CROT CROT. Aku ejakulasi tanpa sperma? Kagum nya aku, dengan skill mahasiswi ku ini. Kontolku masih berdiri tegak dengan sempurnanya menantang mulut si S. Dia tampak tidak kaget dan malah terus asik menjilati kontolku yang tampak lebih bengkak. Pelan dan lirih dia bisikkan
S: “Genjot lagi pak” aku mulai menggenjotkan lagi pinggangku, kini lebih ganas, aku pegang kepalanya dan aku betul-betul entot mulutnya. Setelah agak lama berkedut lagi kontolku. Untuk kali ini dia tidak menggenggam kontolku dan malah mengocok batangku dengan cepat. Tanganku menggenggam kepalanya erat, kepalaku melihat ke atas, aku merasa cairan maniku mulai bergerak, aku sungguh ngga mau menahannya. Ughhh kontolku bergetar, dan S masih menyedotnya dengan sempurna. “SSShhh mbak, aku mau keluarrr”. Ia tau itu dan ia percepat kocokannya, dan CROT…CROT…aku semprotkan semua ke dalam mulutnya. Ia menerima itu dan menelannya. Bahkan setelah semua keluar, ia masih menjilati sisanya. Fiuhhhh, perasaan ngilu, enak, nikmat itu dating lagi.

S: “Sudah pak? aku sudah boleh ikut ujian?”tanyanya dengan wajah serius
A: “Ok ujiannya disini, di ruang ini, di meja saya dan sekarang, mulai detik ini” kataku ketus dan galak.
S: “Hah??, aku belum pakai baju pak”, jawabnya panik
Aku diam acuh tak acuh, dan bilang
A: “Waktu kamu 1 jam mbak?”
S: “ Hahh? kan ujian teman-teman 1,5 jam Pak?”
A: “Iya, tadi yang ½ jam sudah aku pakai untuk nguji kamu kan?” jawabku sambil senyum nakal.
S: “ Yee si Bapak…” jawabnya sambil senyum penuh kecewa
A: “ Eitsss belum boleh kerjain, buka semua baju kamu baru boleh ngerjain”
S: “Duhhh ujiannya susah amat pak?” katanya dengan nada dongkol tapi tetep ngebuka celana

A: “ Nah ujian kamu adalah mengerjakan soal ujian dengan gangguan khusus” kataku tegas dan nakal
S: “Gangguan khusus apa pak?” katanya cemas

Aku masuk ke dalam lubang meja, aku buka lebar2 kakinya, dan aku mulai jilatin memeknya yang berbulu kecil kecil.

S: “ahhhh apa-apaan sih pak?? masa ujiannya kayak gini? Sshh ahhh”
A: “ Udah kerjain soalnya, ini bagian dari ujian, salah sendiri kamu ngga bawa kartu ujian”
Meski dia tampak risih, tapi tampaknya dia mulai menikmatinya.
S: “ shhh ahhh yeee si bapak..shhss naik dikit pak…ahhh”
A: “udah kerjain soalnya!!!” kataku galak
S: “iyhaaa pak…shhhs…ughh”

Aku nikmati kakinya, selangkangannya, aku belai bulu-bulu lembutnya. Aku buka belahan memek nya. Dan, memang masih perawan. Aku buka daging yang menutupi memek itu pelan, dan aku jilat lembut. Slurp, slerpps, aku jilat dari lubang memek sampai ke batas anus nya. Kembali aku jilat dari bawah ke atas. Dia hanya menggelinjang sambil berusaha tetap konsentrasi mengerjakan soal ujian. Sesekali dia menyeracau dengan konsep teori yang aku ajarkan di kelas.
S: “Wealth of Nationssshhh adalah saaaalaahsss satu ahhh Pak…naik pak…ahh situ pak…salah satuuu pengarang ahhhh”
Desahan itu membuatku semakin menggila. Jilatan demi jilatan aku lancarkan sambil sesekali aku hisap lubangnya. Aku buka semakin lebar dan aku jilati itil nya yang sudah mulai nongol, aku lahap dan kenyot. Dia semakin menyeracau ngga karuan. Tapi dia masih berusaha konsentrasi, sampai akhirnya, setelah 15 menit aku jilati dia letakkan bolpennya. Dan dia pegang kepalaku didorongnya kepalaku ke memek dia, dan benar-benar dia gesek-gesekkan memeknya ke wajahku sambil bilang
S: “ Makan nih pak…makannn” dengan penuh geram dan kebencian. Aku layani permintaannya
Aku sedot kuat-kuat lubang memeknya sambil aku remas pantatnya. Aku buka lubang memeknya dan aku jilat-jilat keperawanannya, dia menggelinjang hebat sambil sedikit mengumpat,
S: “makan nih memek ku pak dosennnn…jilat yang nakal” Entah kenapa aku merasa senang dikasari si mahasiswi ini.
S: “Telan pak…telan cairankuuu…” Gesekannya semakin menggila mukaku basah penuh oleh cairan memeknya. Tiba-tiba cengkeramannya mengeras dan dia menggelinjang hebat sambil berkata
S: “Sedot A..sedot yang kuattt!!!” dia sebut namaku tanpa panggilan pak, anehnya lagi aku turuti maunya dan aku merasa senang! Aku sedot lubang memek nya yang semain berdenyut kencang, Ia mulai tutup paha nya, untuk menjepit kepalaku. Aku susah bernapas, tapi kenikmatan sensasi ini tak tergambarkan. Sesaat kemudian cengkeraman tangannya menguat dan dia berteriak menyebut namaku..
S: ”A…aku keluarrrrrrr sedot yang kuattt cepetttt!!!” lagi-lagi tanpa menyebut pak, dan dia memerintah aku dengan kasar, dan lagi-lagi aku sungguh senang diperintah sperti itu, aku sedot kuat-kuat dan SERRRRRRRR aku rasakan squirt yang keluar dari lubang memek nya
S: “ Minum pak…minum semuanya!!!”ujarnya sambil mengeplak kepalaku. yap bisa diduga dengan rakus aku minum dan jilatin cairan memeknya…ngga berapa lama kemudian dia mengejang lagi dan
S: “Aku keluarrr lagi pakkk” SERRRRRR SURRRRRRR kali ini lebih banyak … dan tanpa dikomandi ku jilat hingga tandas cairannya.
Pelan ia lepas jepitan paha nya. Pemandangan yang seksi, mahasiswi bugil di kursi ku dengan wajah kelelahan dan masih terengah-engah.

A: “Ok mbak waktu ujiannya habis”. Mendengar perkataanku dia hanya diam, dan mengatur napas.
S: “Sudah selesai kok pak, ntar ya pak aku istirahat dulu”.
Kaget aku karena cepat sekali dia menyelesaikan ujian, aku ambil kertas ujiannya, dan ternyata 5 soal yang aku berikan sudah dia jawab semua.
A: “Ya sudah, aku terima”. Kataku tegas dan jaim. Tiba-tiba ia berdiri dan memelukku erat, sambil berbisik nakal,
S: “makasih ya pak, atas ujian dan orgasme nya” Aku hanya tersenyum simpul, dan menjawab.
A: “Iya, sama-sama”. Tak lama setelah itu ia berpakaian utuh, dan meninggalkan ruanganku. Aku periksa pekerjaannya dan hanya tersenyum sambil berujar dalam hati “dari 5 soal, hanya 2 soal yang benar, 2 soal lagi salah dan soal terakhir tulisannya cuma ughhh ahhh enak pakkk terusss jilat teruss sayang..” ternyata itu toh caranya dia nahan keenakan. Hmmm pikiran nakalku melayang lagi. Kayaknya kita masih ketemu lagi mbak, karena nilaimu jelek, dan nggak cukup untuk lulus, hehehe.

Hari yang hangat itu berakhir. Sebelum pulang aku sempat menengok salah satu akun jejaring sosialku. Kagetnya aku ketika si S menulis di dinding temannya si D. “Hoi Beib…gw menang…gw berhasil pipisin muka dia, mana 100 ribu gw”. Terhenyak sekaligus takjub, aku nggak nyangka ternyata aku dijadikan bahan taruhan mahasiswi ku.

Categories: Uncategorized
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: