Home > Uncategorized > Aku Remi Dan Pacarku

Aku Remi Dan Pacarku

Namaku Adi, aku seorang mahasiswa universitas ternama di bandung. aku pindahan dari kota Surabaya. Aku di Bandung mengontrak dengan teman-teman se jurusanku yang semuanya laki-laki. Aku memiliki pacar di Surabaya yang bernama Ifa. Cerita berawal ketika Ifa main ke kota Bandung.

Pada saat itu liburan usai Ujian tengah semester. Ifa yang sedang menganggurpun aku ajak main ke Bandung, karena untuk menghemat biaya, aku menyuruh Ifa untuk menginap di kontrakanku. Ifa di Bandung selama 2 minggu, selama itu rasanya aku dan dia layaknya sepasang suami istri, tiap malam kami bersetubuh dengan liar, terlebih ketika tidak ada teman di kontrakanku yang notabene saat itu mereka juga pulang kampung. Kami bercumbu liar di manapun kami berada, dapur, kamar mandi, teras depan, bahkan kamar temen, untung tidak ada kondom yang ketinggalan. hehehe…

Pada saat minggu-minggu terakhir ifa akan pulang, seorang teman telah kembali dari kampung halamannya. Namanya Tommy, perawakannya tidak seberapa tinggi, cukup manis, dan brewokan. Beberapa kali kupergoki Tommy sedang mencuri pandang ke arah payudara pacarku yang notabene cukup besar. Begitu pula Ifa, terkadang ia mencuri pandang ke gembungan di celana Tommy ketika ia usai mandi.

Pada suatu malam, ketika tinggal aku, Tommy, dan Ifa. Tommy mengajak aku bermain remi bersama, karena kasihan ifa yang kutinggal sendirian di kamar, akhirnya ifa kuajak main bersama. Pada ronde-ronde awal permainan berlangsung biasa, yang kalah hanya harus mencoreng mukanya dengan bedak. Permainan tersebut cenderung membosankan. Setelah itu, Tommy mengeluarkan ide gilanya,

“Bosen ah, gimana kalo mulai sekarang yang kalah harus nurut sama yang menang ?”
“Setuju!” Jawab Ifa.

Aku tentu saja kaget mendengar perkataan Tommy, dan yang membuatku lebih kaget, Ifa tanpa berpikir 2x menyetujui saja tawaran Tommy, aku yang kalah suara pun hanya bisa nimbrung.

Pada ronde pertama, Tommy menang, ia hanya bertanya apa saja yang kulakukan selama Ia tidak ada. Ifa pun menjawab dengan gamblang apa yang kami lakukan, termasuk di kamar Tommy.

” Selama kamu nggak ada, kayak biasanya lah anak muda, kita ngeseks di banyak ruang deh, kamar mandi, balkon, bahkan kamar kamu! rasanya seru deh, kayak ada yang ngawasin. hehehe”

Aku lebih kaget lagi dengan kejujuran Ifa. Pikiranku mulai tidak karuan. Takut ada hal yang lebih buruk terjadi.

Ronde kedua aku yang menang, aku suruh si Tommy buat beliin kita minuman. 25 menit berlalu, Tommy datang membawa 3 botol bir. Aku agak kaget bertambah curiga, karena ternyata botol-botol tersebut sudah dalam kondisi terbuka.

“Tom, udah lu buka dari toko?” Tanyaku,
“Jelas lah, masa gue buka di jalan pake gigi? ngehe lu!” Jawab si Tommy
“Kita kan ada bukaan botol?” Lanjutku penasaran
“Lupa gue. hehehe” Tommy menjawab dengan cengengesan, makin aneh aja nih si Tommy.

Aku berusaha berpikir jernih, semoga gak ada apa-apalah. Ronde ketiga yang menang si Tommy lagi, dia minta semua yang ada disana lepas baju 1 lapisan. Aku yang menggunakan kaos menanggalkan kaosku, sedang pacarku yang cuman pake kaos kedodoran yang tampak seperti daster agak kebingungan.

“gimana nih aku? ikut buka?” tanya cewekku.
“Iya dong, sportif lah!” Seru Tommy.

Aku yang kebingungan dengan jawaban Tommy, mencoba menenangkan diri dengan minum bir dari si Tommy. “Bener juga jawaban si Tommy, Sportif” batinku. Maka pacarku segera melapaskan kaosnya, terlihatlah bra dan celana hitam pacarku yang terpampang jelas di antara kita. Buat melepaskan ketengangan mungkin, pacarku mulai menenggak bir dari Tommy,

Ronde selanjutnya ternyata yang menang si Ifa, untuk membalas hukuman si tommy, kami disuruh untuk membuka boxer kami. Aku yang masih menggunakan celana dalam merasa tenang, yang membuatku was-was ternyata Tommy sudah tidak mengenakan apa-apa lagi dibalik boxernya.Kulihat Ifa terpekik kaget.

“Ahh..” pekik ifa
“Apaan fa? gimana ama punya si adi?” tanya si Tommy
” Hmm… Rahasia dong!” jawab Ifa
” Pelit ah lu!”

Anehnya si Tommy memamerkan kontolnya seperti tidak ada hal apa-apa. kuakui mungkin perbandingan kontolku dengan tommy masih menang aku dalam hal panjang, namun kontol Tommy tampak lebih panjang dan bengkok ke atas.

Setelah beberapa ronde lewat, ternyata tanpa sadar kami telah bugil semua. Kecuali Ifa yang tersisa bra hitamnya saja. Waktu telah menunjukkan pukul 23.00 dan aku merasa pusing yang teramat sangat. Rasanya ingin tidur saja.

“Tidur yuk yang” Ajakku kepada Ifa.
“Enggak ah, Belum ngantuk” jawab Ifa.
“Yaudah aku tidur duu ya, jangan macem-macem!” Ancamku kepada Ifa.
Rasanya Rasa pusingku telah mengalahkan akal sehatku bahwa Ifa sedang berdua bersama lelaki tanpa busana.

Aku tidur beberapa lama, sekitar jam 01.00 aku terbangun. Aku mencari Ifa, ternyata ia sudah tidak ada disampingku. Aku keluar mencari minum, aku berpikir mungkin Ifa di kamar mandi. Ketika aku mengambil minum, aku mendengar seperti kayu yang bergoyang hebat “kriet,krieet…”. Pikiranku mulai tidak enak, aku pun berjingkat menuju kamar atas.

Aku mendengar rintihan wanita yang aku kenal suaranya, “Ifa, tapi sama siapa dia? pasti Tommy deh, Shit!” Batinku. Aku mengendap ke kamar Tommy, dan mulai membuka pintu perlahan. Ternyata benar, Ifa telah bergumul bersama Tommy, tubuh mulusnya terpampang jelas. Ia menungging menghadap meja rias. Tampak jelas pantat indahnya membelakangiku. wajahnya tempak terangsang berat, kulihat itu di pantulan cermin rias yang cukup besar dari kamar Tommy. Tommy menggenjotnya dengan posisi doggy style. Tubuh Ifa tampak sempurna dalam posisi itu, payudara besar yang menggantung indah, pantat sekalnya yang menungging, serta pinggul mulusnya tampak sempurna dari sini. Aku berusaha untuk memendam amarah, tanpa dipungkiri lagi ternyata nafsuku meluap lebih besar daripada amarahku. Aku tinggal berusaha menikmati tayangan di depan mataku.

“Tom, ayo genjot aku lebih dalam tom.. emmh..”
“Pantat lu sekel banget deh fa!”
“Aassh.. enak banget kontolmu tom, kena banget tom! enak..!” Ifa tanpa sadar mulai mengeluarkan kata-kata kotornya.
“Eh, mulutnya nakal ya! tampar sini pantatnya!”
“Ah..enak Tom! Terus Tom..emmhh.. tampar terus Tom!”

Tommy terus menggenjot Ifa dalam posisi itu. Tanpa sadar aku telah memegang kontolku sendiri yang terlah menegang penuh, jujur aku menikmati tayangan itu. aku tak pernah sekonak ini sebelumnya.

“Emmphh.. terusin tom! kita ngentot semalam penuh tom! biarin si adi di kamar sendiri… aku perngen kontolmu aja tom..”
“Errgh, kontol gue sama si adi enakan mana fa?”
“Eeegh..nakan konh..tolmu toh..m, tehh..bel bangeet!” ucap ifa sambil mendesah keenakan.
“eennghh.. nih ambil tehhruuus koonntool guee.., pantat luu faa… gak kuaaat gue.. aahh..”
“aaah.. jangan keluar dulu tooom, ganti posisi aja dulu.. eeeemph..”

mereka pun berganti posisi, Ifa didudukkan di atas meja rias tersebut, keduanya saling berhadapan. Tommy memasukkan kontolnya dari arah depan. Karena takut ketahuan, aku menutup pintu perlahan, dan mulai mengintip dari lubang kunci.

“heeemph, enak banget kontolmu kalo gini tooomhh..! engaaaak bangeeet …! aku udah lama pengen ngentotin kontolmu tom! aaaaanggh….!”
“Ammmphh.. sama faaa… badan lu bagus banget! gak heran deh adiii seneng bangeetthh ngennhhtotin kamuuuhh…!:
“aahh.. jangan ngomonghiiin adi…ahhkkuuu cuman mauuugh kontooolhmuuu….!”
“ambbiiil nhiiih ffaaah! Enak faaa ?”
“enaak bangeeethh…! Aaaah, aku keluar dii!!! gak khuuuaaat! Aaaaaaagh!”

Ifa pun melemas di pelukan Adi yang belum puas berusaha kembali membangkitkan gairah Ifa. Ia mencium seluruh badan Ifa, mulai dair rambut, bibir, leher, telinga hingga kakinya. Sedangkan aku disini hanya menikmati a[a yang aku lihat, aku tidak bisa berbuat apa-apa. nafsu mengalahkan logikaku.

“Kamu belum puas ya Tom?” tanya Ifa sambil menggelinjang geli.
“iya nih, lanjutin yaaaa? please? keburu adi bangun nih! Obat tidurnya kan cuman bentar..” Tommy keceplosan.
“apa? kamu kasih adi obat tidur biar kamu bisa ngentot aku? gila deh kamu tom! gila banget! gemes deh!” jawab Ifa sambil mencubit kontol adi yang masih sangat tegang.
“iiih sakit tau!” jawab Tommy sambil menggigit kuping telinga ifa perlahan
“aahhh.. geli ah Tommhh… kalo sakit sini aku kocokin…”
“aah .. jangan cuman dikocok dong!”
” ah nakal deh kamu… dilanjutin lagi yuk!”
” Jangan banyak omong ah… aku pengen ngentot kamu lagi nih udahan!”

Si tommy pun mengangkat ifa ke kasurnya. dan mereka melanjutkan dalam posisi WOT. Akut tahu ifa paling suka posisi ini karena payudaranya akan terkspos dengan baik. Aku melihat ifa yang sedang tertekuk punggungnya sedang disetubuhi Tommy, benar-benar seperti bidadari. Putih, cantik, payudara yang indah, pinggul yang meliuk, rasanya ingin kulanjutkan masturbasiku.

“aaah, enak deh tooommhh… ”
“ennggghhh ihhyaaah faaah… goyaanggghhh teruuusshhh faaahhh..!”
“aaahhh… uuuhh…” lenguh ifa
“susumu bagus banget faaaaahhh…”
“ahmhhh… kamu bisaahh aja deehhh toommhh…”
“faaaahh.. akuuhh mau keluarrhhh… dimana nihh…?”
“diluarhhh aja tommhh..”

Tommy mencabut kontolnya, dan yang bikin aku tercengang Tommy mengerahkan itu ke muka pacarku. Ifa selalu menolak hal itu karena jijik alasannya. Tapi hari ini ia malah membantu Tommy mengocok kontolnya.

“emmmhh… terus fahh..”
“keluarin tooomm.. jangan ditahan..”
” ahh… emmhh .. ahh.. aku keluaarhhh… faaaaaah!!”

seluruh sperma Tommy pun muncrat membasahi seluruh wajah Ifa, dangan rakus ifa menjilat dan mencolek seluruh sperma di mukanya.

“gila deh tom.. kuat bener kamu.. sperma kamu juga enak!”
“ah.. makasih fa.. kalo kamu ke bandung lagi, main sama aku lagi ya…”
“siap deh tooom.. kamu enak banget! kontolmu bagus, bengkok ke atas”
“ah kamu bisa aja, tamparin kontol sini!”
” ah tom, nakal deh!” pekik ifa.

setelah itu pun aku membereskan seluruh celana dalamku yang berlumuran spermaku sendiri, aku masuk dan berusaha terpejjam di kamarku. aku baru sadar kalau Ifa telah bergumul hebat selama 2.5 jam. aku tak tahu setelah itu mereka melakukan kembali atau tidak. ifa kembali ke kamar pada jam 04.00.

besoknya ifa pulang ke surabaya, ia aku antar ke stasiun. selama dalam perjalanan ia tampak lemas. aku bertanya pura-pura tidak tahu.

“kamu kenapa yang?” tanyaku.
“nggak papa kok, kemarin main remi sampai malem, aku ngantuk”
“yaudah, tidur dulu gih.”
“iya yang, kapan-kapan ajak aku ke bandung lagi ya, enak disini.”
“iya deh”

tak beberapa lama kami tiba di stasiun dan ifa pun pulang. aku menyesali kesalahanku yang tidak mencegah peristiwa tadi malam, tapi aku baru paham ternyata nafsu terkadang mengalahkan logika.

Categories: Uncategorized
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: